Powered by Blogger.

RSS

Monday, April 25, 2011

Saat Berpisah





Sebaik-baik penasihat ialah kematian. Namun, mana mungkin orang yang pernah mati datang kepada kita untuk menasihatkan? Mengingatkan mati, menakutkan. Manusia akan takut pada apa yang tidak diketahuinya.
Semuanya masih misteri. Hanya tinggal al-Quran dan al-Hadis untuk kita rujuk bagi mengetahui tentang kematian. Namun berapa kerat antara kita yang berbuat demikian. Cerita tentang kematian akan mematikan rasa kemanisan menikmati hidup ini. Dan akibatnya, mati terus mati dalam hidup kita!
Jika seseorang mengingati mati, akan mudah hatinya dilentur kepada makrufat dan makrifat. Jika mengingati kematian jiwa akan jeran dan bosan dengan maksiat dan sayyiat (perkara yang buruk). Jika mati itu hidup di dalam hati kita, kita akan mudah memberi dan meminta maaf. Kita akan mudah bersabar dan bertenang dengan karenah insan. Nikmat dosa akan sirna dengan mengingati mati. Azab taat akan kecil bila teringat saat kembali.
Ketika hatimu jemu dengan ketaatan, mula tergiur dengan kemaksiatan, kenang-kenangkanlah SAAT BERPISAH.
Saat perpisahan itu pasti tiba. Dan tidak ada masa yang sesuai untuk saat itu. Kita datang tidak diminta, kita pulang tidak diduga. Bila sanggup hidup, mesti sanggup mati. Bila sanggup datang, mesti sanggup pulang. Kita hanya menghabisi bilah-bilah hari yang telah ditentukan. Tujuan ke sini untuk diuji, tiba masanya pasti kembali!
Mengapa terlalu enggan untuk berpisah? Nikmat sangatkah dunia ini? Padahal senang dan susah bertukar ganti, suka dan duka datang dan pergi. Tidak ada yang kekal lama, semuanya bersifat sementara. Jika mati tidak memisahkan, kesenangan ini pun akan pergi jua. Kata mereka yang arif tentang kehidupan:
"Manusia lahir bersama tangisan, dicelahi kehidupannya oleh tangisan dan akan dihantar ke pusara oleh tangisan."
Pernahkah ada kesenangan yang abadi dan hakiki? Tidak ada. Justeru, hiduplah berpada-pada. Hiduplah bagai musafir lalu yang singgah bagaikan dagang di rantau orang. Hatinya tetap merindui kampung halaman. Hiduplah bagai orang yang sedang menyeberangi satu jambatan. Tidak sudi berlama-lama kerana di situ hanya sementara. Kakinya melangkah kencang justeru jiwanya sudah di seberang.
Hidup mesti sederhana kerana dunia ini sementara. Sederhana itu bukan pada ringgit dan harta tetapi pada jiwa dan rasa. Jangan terlalu gembira, jangan terlalu berdukacita.
Tidak ada kesenangan yang tidak diiringi kesukaran dan tidak ada kesukaran yang tidak diiringi kesenangan. Selepas ketawa, pasti menyusul air mata. Selepas nestapa pasti kegembiraan menjelma. Allah memberikan kita terang untuk bersyukur. Allah berikan kita gelap untuk bersabar.
Jadilah insan lara yang temannya mujahadah dan taubat. Sentiasalah berusaha menjadi insan yang baik walaupun masih digamit oleh ghairah kejahatan dan dosa. Jatuh, bangun kembali. Jatuh, bangun lagi.
Ukirlah seribu taubat walaupun telah berkali-kali ia dimungkiri. Allah tidak akan jemu dengan taubat hamba-Nya selagi kita tidak putus asa kepada-Nya. Tempuhi jalan mujahadah sekalipun langkahmu pernah goyah. Jangan mengalah. Kau tidak akan kalah selagi tidak mengalah.
Luruskan jalan menuju Tuhan dengan tulusnya hati sesama insan. Elakkan hasad, jauhi mengumpat. Jika tidak mampu menambah, jangan mengurang. Jika tidak mampu menjulang, jangan menghalang. Ingat selalu kata hukama:
"Jika tidak mampu menjadi garam yang memasinkan ikan, jangan jadi lalat yang membusukkannya."
Jika tidak dapat mengucapkan perkataan yang baik, banyakkan diam. Jika memberi nasihat dirasakan terlalu berat, cukuplah dengan menghulurkan doa dan munajat. Setiap kita mempunyai kelebihan. Kata orang, Tuhan tidak mencipta manusia bodoh. Tuhan mencipta manusia dengan kebijaksanaan berbeza.
Justeru, carilah apakah "kebijaksanaan" itu kerana itulah saluran kita untuk berbakti. Ketika rasa takut singgah oleh kebimbangan dijemput maut, katalah pada diri, bila berdepan dengannya kita akan lupa segala-galanya. Kesayangan yang kita takutkan kehilangannya, kecintaan yang kita bimbangkan perpisahan dengannya, akan menjadi sedebu bila berdepan dengan detik itu.
Kita akan terlupa akan jalan yang telah jauh kita tinggalkan di belakang kerana memandangkan jalan yang lebih jauh merentang di hadapan. Nikmat dunia akan kita lupakan sebaik sahaja melihat azab di akhirat. Dan azab di dunia akan kita lupakan setelah melihat nikmat di akhirat.
Sesungguhnya mati itu bukan satu pengakhiran tetapi ia satu permulaan kepada satu kehidupan yang lebih sejati dan hakiki. Mati itu hanya proses perpindahan – dari alam dunia ke alam barzakh. Sama seperti kelahiran – proses berpindah dari alam rahim ke alam dunia.
Ya, kalau sanggup datang. Mesti sanggup pulang. Hati sewajarnya sentiasa merasa bertemu tak jemu, berpisah tak gelisah. Bukankah kita bertemu untuk berpisah? Dan berpisah untuk bertemu? Semoga kembara kita di dunia akan tiba bersama di hujung destinasinya... syurga!



Thursday, April 7, 2011

Terputusnya amalan selain tiga perkara.

Ilmu agama yang bermanfaat, anak sholeh yang selalu mendoakan ortunya dan sedekah jariyah adalah di antara amalan yang bermanfaat bagi mayit walaupun ia sudah di alam kubur. Simak sajian singkat berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Faedah dari hadits di atas:
Pertama: Jika manusia itu mati, amalannya terputus. Dari sini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia.
Kedua: Allah menjadikan hamba sebab sehingga setelah meninggal dunia sekali pun ia masih bisa mendapat pahala, inilah karunia Allah.
Ketiga: Amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun setelah meninggal dunia, di antaranya:
a. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.
b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.
c. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia.
Keempat: Di antara kebaikan lainnya yang bermanfaat untuk mayit muslim setelah ia meninggal dunia yang diberikan orang yang masih hidup adalah do’a kebaikan yang tulus kepada si mayit tersebut. Do’a tersebut mencakup do’a rahmat, ampunan, meraih surga, selamat dari siksa neraka dan berbagai do’a kebaikan lainnya.
Kelima: Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “atau anak sholeh yang mendo’akannya”, tidaklah dipahami bahwa do’a yang manfaat hanya dari anak saja. Bahkan do’a kebaikan orang lain untuk si mayit tersebut tetap bermanfaat insya Allah. Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan melakukan shalat jenazah terhadap mayit lalu mendo’akan mayit tersebut walaupun mayit itu bukan ayahnya.
Keenam: Dalam hadits terdapat isyarat adanya keutamaan menikah, juga terdapat dorongan untuk menikah dan memperbanyak keturunan supaya mendapatkan keturunan sholeh (sehingga bermanfaat nantinya ketika kita telah meninggal dunia, pen).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...